“ilmu budaya dasar”
Universitas gunadarma
Manusia dan pandangan hidup
Nama : bagus kuncoro
Kelas: 1ea30
Npm : 11214993
Kata
Pengantar
Puji
syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat
dan karunianya, agar dapat menyelesaikan Makalah Ilmu budaya dasar
tentang manusia dan cinta kasih.Manusia dan cinta adalah termasuk dalam salah
satu mata kuliah ilmu budaya dasar.
Dengan
makalah ini ,tidak terlepas dari bantuan banyak dari beberapa sumber
pengarang tentang manusia dan cinta kasih ini.
Kami
menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari makalah ini, baik dari materi
maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman
penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun penulis sangant
diharapkan.
Bekasi,20
desember 2014
Pembahasan
a.
Pengertian pandangan hidup
Manusia adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya.
Dikarenakan manusia memiliki akal, pikiran dan rasa. Ketika kekayaan manusia
inilah yang membuat manusia disebut sebagai khalifah di bumi ini. Tuntukan
hidup manusia lebih dari pada tuntutan hidup makhluk lainnya yang membuat
manusia berfikir lebih maju untuk memenuhi kebutuhan atau hajat hidupnya di
dunia, baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Dari proses ini maka lahirlah
apa yang disebut kebudayaan dan pandangan terhadap hidup.
Setiap manusia memiliki pandangan hidup yang berbeda-beda mengelompokkan
pandangan hidup yang berdeda-beda akan menciptakan paham atau aliran. Pandangan
hidup tidak terlepas dari masalah nilai dalam kehidupan manusia. Jadi pandangan
terhadap hidup ini adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi
manusia. Pandangan hidup dapat menjadi pegangan, bimbingan dan tuntutan
seseorang ataupun masyarakat dalam menempuh kehidupan. Oleh karena itu, dalam
kehidupan dunia dan akhirat pandangan hidup seseoranglah yang menentukan akhir
hidup mereka sendiri. Selain itu pandangan hidup juga tidak langsung muncul
dalam masyarakat, melainkan melalui berbagai proses dalam menemukan jati diri atau
pandangan hidupnya. Mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa.
Dalam penemuan pandangan hidup tersebut, tidak lepas juga dengan
pendidikan. Manusia mengetahui tentang hakikat hidup dan sebagainya adalah
berasal dari pendidikan.Oleh karena itu jika kita membahas tentang pendangan
hidup, tidak boleh lepas dari pendidikan manusia dapat berfikir ledih kedepan
mulai dari kehidupan baik lahir dan batin. Pandangan hidup dapat digolongkan menjadi dua (2) yaitu:
a.
Pandangan hidup tradisional
Pandangan hidup tidak akan berfungsi secara wajar jika tidak
digunakan dalam hidup bermasyarakat. Manusia yang hidup menyendiri tidak mampu memfungsikan diri secara wajar
dalam kehidupannya, apabila jika manusia hidup secara bermasyarakat akan
terjadi suatu proses interaksi yang teratur guna mewujudkan tuuan hidup bersama’
pandangan hidup tradisional merupakan gambaran pola hidup
berdasarkan berbagai macam norma kehidupan tradisional,seperti
1. norma kehidupan keagamaan disebut pandangan hidup tradisional
religious
2. norma kehidupan kekeluargaan disebut pandangan hidup
tradisional kekeluargaan
3. norma kehidupan
gotong-royong disebut pandangan hidup tradisional gotong royong
b.
Pandangan hidup modern
Pandangan hidup modern selalu dikatikan dengan kehidupan modern
yang berbasis organisasi atau partai
politik.apabila pandangan hidup diterima oleh sekelompok orang sebagai
pendukung sutau organisasi pandangan hisup itu disebut “ideology”
apabila organisasi itu organisasi politik disebut juga
sebagai ideology politik
apabila organisasi itu disebut
Negara berarti pandangan ini disebut ideology Negara
dan berbeda dengan pandangan
hidup traisional berdasarka keteraturan atas
kesadaran, maka pandangan hidup
modern berdasarkan kekuasaan yang intinya
kekuatan dan paksaan.
c. Cita-cita
Cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran.
Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup. Dalam
kehidupannya manusia tidak dapat melepaskan diri dari cita-cita, kebajikan, dan
sikap hidup itu. Tidak ada orang hidup tanpa cita-cita, tanpa berbuat
kebajikan, dan tanpa sikap hidup. Sudah tentu kadar atau tingkat cita-cita,
kebijakan dan sikap hidup itu berbeda-beda bergantung kepada pendidikan,
pergaulan, dan lingkungan masing-masing.Itulah sebabnya, cita-cita, kebajikan,
dan sikap hidup banyak menimbulkan daya kreativitas manusia. Banyak hasil seni
yang melukiskan cita-cita, kebajikan, dan hidup seseorang. Cita-cita ini
perasaan hati yang merupakan suatu keinginan, kemauan, niat, atau harapan.
Cita-cita itu penting bagi manusia, karena adanya cita-cita menandakan
kedinamikan manusia.Ada tiga katagori keadaan hati seseorang, keras, lunak, dan
lemah. Orang yang berhati keras, tak berhenti berusaha sebelum cita-citanya
tercapai. Ia tak menghiraukan rintangan, tantangan, dan segala kesulitan yang
dihadapinya. Orang yang berhati lunak dalam usaha mencapai cita-citanya
menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Orang yang berhati lemah, mudah
terpengaruhi oleh situasi dan kondisi. Cita-cita, keinginan, harapan, banyak
menimbulkan daya kreatifitas para seniman. Banyak hasil seni seperti: drama,
novel, film, musik, tari, filsafat yang lahir dari kandungan cita-cita,
keinginan, harapan dan tujuan.
d. Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada
hakikatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan
norma-norma agama atau etika. Manusia adalah seorang pribadi yang utuh yang
terdiri atas jiwa dan badan. Manusia merupakan makhluk sosial: manusia hidup
bermasyarakat, manusia saling membutuhkan, saling menolong, saling menghargai
sesama anggota masyarakat. Sebaliknya pula saling mencurigai, saling membenci,
saling merugikan, dan sebagainya.Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus
melihat dari tiga segi, yaitu: manusia sebagai pribadi, manusia sebagai anggota
masyarakat, dan manusia sebagai makhluk Tuhan.Manusia sebagai pribadi dapat
menentukan baik dan buruk. Yang menentukan baik dan buruk itu suara hati. Suara
hati itu semacam bisikan dalam hati untuk menimbang perbuatan baik atau tidak.
Jadi suara hati itu merupakan hakim terhadap diri sendiri. Suara hati
masyarakat, yang menentukan baik dan buruk adalah suara hati masyarakat. Suara
hati manusia adalah baik, tetapi belum tentu suara hati masyarakat menganggap
baik. Demikian pula manusia sebagai makhluk Tuhan, manusia pun harus mendengar
suara hati Tuhan. Tuhan selalu membisikkan agar manusia berbuat baik dan
mengelak perbuatan yang tidak baik. Jadi kebajikan itu adalah perbuatan yang
selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan hukum Tuhan.
Kebajikan berarti berkata sopan, santun, barbahasa baik, bertingkah laku baik,
ramah tamah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang
melihatnya. Namun ada pula kebajikan semu, yaitu kejahatan yang berselubung
kebajikan.
e. Sikap Hidup
Sikap hidup adalah keadaan hati dalam menghadapi hidup. Dalm menghadapi
kehidupan, yang berarti manusia menghadapi manusia lain atau menghadapi
kelompok manusia, ada beberapa sikap etis dan sikap nonetis. Sikap etis disebut
juga sikap positif sedangkan sikap nonetis disebut juga sikap negatif. Ada
tujuh sikap etis, yaitu : sikap lincah, sikap tenang, sikap halus, sikap
berani, sikap arif, sikap rendah hati, dan sikap bangga. Sedangkan sikap
nonetisada 6 yaitu : sikap kaku, sikap gugup, sikap kasar, sikap takut, sikap
angkuh, sikap rendah diri. Sikap-sikap positif bagi bangsa Indonesia.
Sikap-sikap itu antara lain : sikap suka bekerja keras, sikap gotong royong,
menjaga hak dan kewajiban, sikap tolong menolong, dan sikap mengargai pendapat
orang lain. kebajikan secara nyata dan dapat dirasakan melalui tingkah lakunya.
Dan, dalam hal ini, tingkah laku manusia sebagai perwujudan kebajikan inilah
yang akan dikemukakan karena wujudnya dapat dilihat dan dirasakan. Karena
tingkah laku bersumber pada pandangan hidup, maka setiap orang memiliki tingkah
laku sendiri-sendiri yang berbeda dari orang lain dan tergantung dari
pembawaan, lingkungan, dan pengalaman. Dalam setiap perbuatan, manusia harus
memahami etika yang berlaku dalam masyarakat. Sehingga kehidupan dalam
memasyarakat menjadi tenang dan tentram.
Namun demikian dibalik keragaman pendapat tersebut tampaknya ada satu
benang merah yang dipersamakan, yaitu adanya kesepakatan bahwa manifestasi
sikap tidak dapat dilihat secara
langsung akan tetapi harus ditafsirkan terlebih dahulu sebagai tingkah laku
yang masih tertutup. Sikap manusia bukanlah suatu konstruk yang berdiri
sendiri, akan tetapi paling tidak ia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan
konstruk-konstruk lain, seperti dorongan, motivasi, atau bahkan dengan
nilai-nilai tertentu.
Motivasi adalah kesiapan yang ditujukan pada sasaran dan dipelajari untuk
tingkah laku bermotivasi. Sikap adalah kesiapan secara umum untuk suatu tingkah
laku bermotivasi, sedang nilai-nilai sasarn adalah sasaran atau tujuan yang
bernilai terhadap mana berbagai pola sikap dapat diorganisir.
Dalam buku Strategi
Kebudayaan, Van Peursen melihat adanya tiga periode peralihan mencolok yang
dialami manusia pada umumnya. Ketiga periode itu adalah tahap mistis, tahap
ontologi, dan tahap fungsional. Tahap mistis merupakansikap manusia yang merasa
dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib disekitarnya. Tahap ontologi
adalah sikap manusia yang tidak hidup lagi dalam kepungan. Sedangkan tahap
fungsional merupakansikap dan alam pikiran yang semakin nampak dalam diri
manusia modern.
Sedangkan menurut Frans
Magnis Suseno melihat adanya dua bahaya yang menjadi kendala dalam kehidupan
manusia dalam mempertahankan sikap hidup yang tepat itu, bahaya tersebut adalah
nafsu dan pamrih. Nafsu merupakan perasaan-perasaan kasar yang bisa
menggagalkan kontrol diri manusia dan sekaligus membelenggunya secara buta pada
dunia lahir. Sedangkan pamrih adalah tindakan yang semata-mata mengusahakan
kepentingannya sendiri tanpa memperdulikan kepentingan orang lain.
Dalam bukunya Falsafah
Hidup Pancasila sebagaimana tercermin dalam Falsafah Hidup Orang Jawa,
Soetrisno melihat adanya tiga nafsu yang begitu menonjolkan aspek pamrih,
antara lain: selalu ingin menang sendiri, selalu ingin benar sendiri, dan hanya
mementingkan kebutuhan sendiri.
Usaha/perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Setiap manusia hams kerja keras untuk kelanjutan hidupnya. Sebagian hidup manusia adalah usaha/perjuangan. Perjuangan untuk hidup, dan ini sudah kodrat manusia. Tanpa usaha/perjuangan, manusia tidak dapat hidup sempuma. Apabila manusia bercita-cita menjadi kaya, ia hams kerja keras. Apabila seseorang bercita-cita menjadi ilmuwan, ia hams rajin belajar dan tekun serta memenuh semua ketentuan akademik.
Kerja keras itu dapat dilakukan dengan otak/ilmu maupun dengan tenaga/jasmani, atau dengan kedua-duanya.
Untuk bekerja keras manusia dibatasi oleh kemampuan. Karena kemampuan terbatas itulah timbul perbedaan tingkat kemakmuran antara manusia satu dan manusia lainnya. Kemampuan itu terbatas pada fisik dan keahlian/ketrampilan.
g. kesimpulan
Pandangan hidup merupakan bagaimana manusia memandang kehidupannya. Setiap
orang memiliki pandangan hidup yang berdeda-beda dan melahirkan suatu paham.
Wujud pandangan hidup manusia berkaitan dengan cita-cita, kebajikan, dan sikap
hidup. Cita-cita merupakan pandangan hidup di masa yang akan datang. kebajikan
secara nyata dan dapat dirasakan melalui tingkah lakunya. Dan, dalam hal ini,
tingkah laku manusia sebagai perwujudan kebajikan inilah yang akan dikemukakan
karena wujudnya dapat dilihat dan dirasakan. Karena tingkah laku bersumber pada
pandangan hidup, maka setiap orang memiliki tingkah laku sendiri-sendiri yang
berbeda dari orang lain dan tergantung dari pembawaan, lingkungan, dan
pengalaman. Dalam setiap perbuatan, manusia harus memahami etika yang berlaku
dalam masyarakat. Sehingga kehidupan dalam memasyarakat menjadi tenang dan
tentram.
h. daftar pustaka
Muhammad,abdulkadir,prof.dr.
2011 ilmu budaya dasar.penerbit mega media,jakarta
Alisyahbana,sutan
takdir,prof.dr 1981.kebudayaan dan peradaban,penerbit gramedia,jakarta
WIDAGDHO, Djoko
Ilmu budaya dasar / penysun , Djoko Widagdho dkk , - Ed , cet , 8
. – Jakarta : Bumi Aksara , 2003 IX, 229 hlm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar