Jumat, 21 November 2014

"sistem pencatatan akuntansi"

“PERHITUNGAN NILAI PERSEDIAAN DENGAN METODE FIFO DAN LIFO”

A.      Pengertian dan Klasifikasi Persediaan
“ Persediaan adalah suatu jenis aktiva atau barang yang dimiliki oleh suatu perusahaan atau badan usaha (saat) tertentu, yang akan dijual kembali atau akan dikonsumsi (dipakai) dalam operasi normal perusahaan. (F.X. Sudarsono ; 1996,106).”
“ Persediaan adalah pos harta yang ditahan untuk dijual dalam kegiatan usaha yang biasa atau barang yang dikonsumsi dalam produksi barang yang akan dijual. (Kieso dan Weygandt ; 1995,491).”
Sedangkan menurut “ Radiks Purba (1995,159) dilihat dari segi neraca, persediaan adalah barang atau bahan yang masih tersedia pada tanggal neraca, yang dapat segera dijual atau digunakan (dikonsumsi) atau diolah dahulu (manufaktur) kemudian dijual.”
Pengertian persediaan untuk jenis barang tertentu bagi perusahaan yang satu tidak sama dengan perusahaan yang lain, misalnya aktiva berupa : mobil, mesin-mesin pabrik merupakan aktiva tetap bagi perusahaan manufaktur namun bagi perusahaan perdagangan mobil dan mesin-mesin pabrik aktiva jenis tersebut merupakan persediaan.
Persediaan barang diklasifikasikan sesuai dengan jenis usaha perusahaan tersebut. Dalam perusahaan perdagangan persediaan barang merupakan aktiva dalam bentuk siap dijual kembali dan yang paling aktif dalam operasi usahanya. Sedangkan dalam perusahaan pabrikasi atau manufaktur, persediaan barang dapat diklasifikasikan sebagai berikut : persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Terdapatnya klasifikasi persediaan yang berbeda antara perusahaan perdagangan dengan perusahaan manufaktur adalah karena fungsi dua perusahaan itu memang berbeda. Fungsi perusahaan perdagangan adalah menjual barang yang diperolehnya dalam bentuk sudah jadi. Dengan kata lain, tidak ada proses pengolahan seandainya terjadi pengolahan maka pengolahan tersebut terbatas pada pembungkusan atau pemberian kemasan agar barang lebih menarik selera konsumen. Sedangkan fungsi perusahaan manufaktur adalah mengolah bahan mentah menjadi produk selesai.

B.      “Sistem Pencatatan Persediaan”
Sistem pencatatan persediaan yang lazim digunakan ada dua macam yaitu:
1.Sistem fisik (physical inventory system)
2.Sistem Perpetual (perpetual inventory system).

1. Sistem Fisik (Physical Inventory System)
Sistem persediaan fisik atau periodik adalah sistem dimana harga pokok penjualan dihitung secara periodik dengan mengandalkan semata-mata pada perhitungan fisik tanpa menyelenggarakan catatan hari ke hari atas unit yang terjual atau yang ada ditangan. Sistem fisik digunakan untuk menentukan jumlah kuantitas persediaan barang dan dilakukan pada akhir periode akuntansi. Cara perhitungan harga pokok penjualandilakukan seperti berikut ini :
Pesediaan Awal                                  xxx
Pembelian                                            xxx  +
Barang tersedia untuk dijual               xxx
Persediaan Akhir                                 xxx –
Harga Pokok Penjualan                       xxx
                                                            ===
Ciri-ciri sistem fisik atau periodik adalah sebagai berikut :

Pemasukan dan pengeluaran persediaan tidak dicatat dan tidak diperhitungkan dalam  suatu catatan tertentu.
Pembelian barang dicatat dengan mendebit rekening pembelian bukan persediaan barang.
Perhitungan persediaan akhir sekaligus digunakan untuk perhitungan harga pokok penjualan dengan menggunakan jurnal penyesuaian.

Sistem ini cukup sederhana dan mudah diterapkan, tetapi kurang baik untuk pengawasan persediaan, karena kekurangan persediaan yang hilang tidak dapat dideteksi dan manajemen tidak memiliki alat untuk mengetahui jumlah persediaan setiap saat.


2. “Sistem Perpetual (Perpetual Inventory System)”
Sistem persediaan perpetual adalah suatu sistem yang menyelenggarakan pencatatan terus-menerus yang menelusuri persediaan dan harga pokok penjualan atas dasar harian. Perkiraan persediaan didukung dalam kartu-kartu pembantu persediaan (kartu persediaan). Kartu persediaan digunakan untuk mencatat transaksi setiap jenis persediaan, memuat nama barang, tempat penyimpanan barang, kode barang dan kolom-kolom yang dipakai untuk mencatat transaksi adalah tanggal, pembelian (pemasukan), penjualan (pengeluaran) dan sisa atau saldo persediaan. Berikut contoh kartu persediaan :
Nama perusahaan : Jenis barang         :
Kode barang  : Gudang          :
Tgl.
Pembelian
Penjualn
Saldo
Unit
Harga
Jumlah
Unit
Harga
Jumlah
Unit
Harga
Jumlah










Ciri-ciri pengelolaan persediaan dengan sistem perpetual adalah sebagai berikut :

Setiap terjadi pembelian barang dicatat dengan mendebit rekening persediaan barang.
Setiap terjadi pengeluaran barang (penjualan) dicatat mengkredit persediaan sejumlah harga pokok penjualan.
Setiap saat dapat diketahui jumlah kuantitas sisa atau saldo persediaan.

Sistem perpetual memudahkan dalam penyusunan neraca dan laporan perhitungan laba rugi karena penentuan persediaan akhir tidak perlu lagi menghitung fisiknya tetapi perhitungan fisiknya tetap dilakukan untuk tujuan pengawasan terhadap persediaan barang.

C. “ Metode Penilaian Persediaan”
Metode yang dapat dipakai untuk menentukan besarnya nilai persediaan ada beberapa macam. Nilai persediaan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap penyusunan laporan keuangan baik dalam neraca maupun laporan perhitungan laba rugi. Nilai persedian yang tercantum dalam neraca menunjukkan nilai kekayaan yang berdasarkan prinsip hati-hati menghendaki nilai mana yang terendah. Sedangkan nilai persediaan untuk kepentingan perhitungan laba rugi dihadapkan kepada kepentingan penentuan laba yang diperoleh perusahaan.
Beberapa metode penilaian persediaan yang ada dapat diuraikan sebagai berikut :

Metode Harga Pokok (cost), dibagi menjadi :
Metode Identifikasi Khusus
Metode Rata-rata, yang dibagi menjadi :
-  Sistem Fisik :( 1) Metode rata-rata sederhana;(2) Metode rata-rata tertimbang.
- Sistem Perpetual : metode rata-rata bergerak

D. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (First In First Out)
Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last In First Out)
Metode Harga Terendah diantara Harga Pokok dan Harga Pasar (Lower of cost or market).
Metode Taksiran, yang didasarkan atas :
Metode Laba Kotor
Metode Harga Eceran
 Metode Harga Pokok (cost)
Penilaian persediaan barang dagangan dengan menggunakan harga pokok adalah penilaian persediaan yang besarnya terdiri dari seluruh pengeluaran yang dilakukan atas kewajiban-kewajiban yang timbul untuk memperoleh barang sampai barang tersebut siap untuk dijual atau dikonsumsi.

E. Metode Identifikasi Khusus
Metode harga pokok yang didasarkan atas metode identifikasi khusus adalah suatu metode penilaian harga yang didasarkan atas nilai perolehan dari barang yang sesungguhnya. Penggunaan metode ini biasanya dipakai untuk barang yang tidak banyak unitnya (kuantitasnya) dan harganya pun cukup mahal.


F. Metode Rata-rata (Average Method)
Metode harga pokok rata-rata adalah suatu metode penilaian persediaan yang didasari atas harga rata-rata dalam periode yang bersangkutan. Besar kecilnya nilai persediaan yang masih ada dan harga pokok barang yang dijual, dipengaruhi oleh metode yang dipakai dalam metode rata-rata adalah : (1) sistem fisik yang dibagi menjadi metode rata-rata sederhana dan metode rata-rata tertimbang ; (2) sistem perpetual (metode rata-rata bergerak). Rumus yang digunakan pada metode rata-rata adalah sebagai berikut :
- Metode rata-rata sederhana :
Biaya perunit                           = Total harga perunit pembelian
Frekuensi pembelian
Nilai persediaan akhir             = Persediaan akhir x biaya perunit
Harga pokok penjualan           = unit yang dikeluarkan x biaya perunit
-    Metode rata-rata tertimbang :
Biaya perunit                           = Jumlah harga perunit x banyaknya unit
Banyaknya Unit
Nilai persediaan akhir             = persediaan akhir x biaya perunit
Harga pokok penjualan           = unit yang dikeluarkan x biaya perunit
-       Metode rata-rata bergerak :
Metode ini diselenggarakan dengan kartu persediaan dan harga pokok perunit persediaan selalu berubah setiap terjadi pembelian barang baru.
Harga pokok rata-rata = harga perolehan lama + harga perolehan baru
Unit barang lama + unit barang baru

G. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (First In First Out)
Metode First In First Out (FIFO) adalah metode penilaian persediaan yang menganggap barang yang pertama kali masuk diasumsikan keluar pertama kali pula. Pada umumnya perusahaan menggunakan metode ini, sebab metode ini perhitungannya sangat sederhana baik sistem fisik maupun sistem perpetual akan menghasilkan penilaian persediaan yang sama.





Cara menghitung persediaan akhir adalah sebagai berikut :
Persediaan awal                      xxx
Pembelian                                xxx +
Tersedia untuk dijual              xxx
Penjualan                                 xxx –
Persediaan akhir                      xxx
Metode FIFO yang didasarkan atas sistem fisik, nilai persediaan akhir ditentukan dengan cara saldo fisik yang ada dikalikan harga pokok perunit barang yang terakhir kali masuk, bila saldo fisik ternyata lebih besar dari jumlah unit terakhir masuk maka sisanya diambilkan dari harga pokok perunit yang masuk sebelumnya. Sedangkan pada sistem perpetual pencatatan persediaan dilakukan secara terus menerus dalam kartu persediaan. Pada sistem ini apabila ada transaksi penjualan maka akan dijurnal dua kali, pertama mencatat harga pokok penjualan dan yang kedua mencatat harga pokok barang yang dijual, seperti berikut ini :
Kas/ Piutang Dagang              xxx
Penjualan                                 xxx
HPP                                         xxx
Persediaan barang                   xxx

H. Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last In First Out)

Metode Last In First Out (LIFO) adalah metode penilaian persediaan yang terakhir masuk diasumsikan akan keluar atau dijual pertama kali. Metode ini memiliki konsep yang cukup sederhana namun sulit dilaksanakan. Pengaruh penggunaan metode LIFO terhadap penentuan laba bersih usaha, jika harga cenderung naik maka laba perusahaan terlalu kecil atau sebaliknya.
Metode LIFO secara sistem fisik ditentukan dengan cara saldo fisik yang ada dikalikan harga pokok perunit barang yang masuk pada awal periode bila saldo fisik ternyata lebih besar dari barang yang masuk pada awal periode maka diambilkan dari harga pokok perunit yang masuk berikutnya. Sedangkan dengan sistem perpetual, setiap kali ada transaksi baik pembelian maupun penjualan dicatat dalam kartu persediaan.

Selasa, 04 November 2014

"penyelesaian siklus akuntansi"



a.       Tahap Pencatatan
Siklus akuntansi pada perusahaan jasa dimulai dari tahap pencatatan. Dalam tahap pencatatan setiap transaksi yang terjadi akan dicatat pada jurnal berdasarkan dokumen sumber, seperti kuitansi, nota kontan, faktur, dan sebagainya. Langkah selanjutnya setelah menjurnal bukti transaksi adalah melakukan pemindahbukuan ( posting ) ke akun-akun buku besar. Setelah semua transaksi di-posting ke buku besar, saldo akhir pada buku besar dipindahkan ke neraca saldo. Pencatatan jurnal sampai dengan neraca saldo disebut tahap pencatatan.

b.       Tahap Pengikhtisaran
Daftar saldo atau neraca saldo yang disusun berdasarkan akun-akun pada buku besar, belum menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Karena mungkin masih ada pendapatan atau beban untuk periode akuntansi saat ini yang belum dicatat, atau sebaliknya. Sudah dicatat tetapi belum menjadi pendapatan atau beban, sehingga perlu disusun ayat jurnal penyesuaiannya.


1.       Tahap Penyesuaian
1.       Daftar saldo atau neraca saldo perlu disesuaikan agar mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Jurnal pnyesuaian dibuat untuk memisahkan antara biaya yang sudah menjadi beban pada suatu periode akuntansi dengan yang belum menajadi beban.
Delapan transaksi yang harus di sesuaikan oleh jurnal penyesuaian pada akhir periode akuntansi adalah sebagai berikut :
a. beban yang masih harus diterima
b. bahan habis pakai atau perlengkapan
c. pembetulan kesalahan
d. pendapatan yang masih harus diterima
e. penyusutan aktiva tetap
f. piutang tak tertagih
g. beban dibayar dimuka
h. pendapatan diterima dimuka

2.       Neraca Lajur
Neraca lajur merupakan suatu daftar yang memuat kolom-kolom neraca saldo, jurnal penyesuaian, neraca saldo setelah disesuaikan, laba-rugi, dan neraca. bentuk neraca lajur terdiri dari 3, yaitu neraca lajur 10 kolom, neraca lajur 8 kolom, dan neraca lajur 12 kolom. Jumlah kolom pada neraca lajur, berdasarkan kebutuhan perusahaan. Tahap penyusunan jurnal penyesuaian sampai dengan neraca lajur disebut tahap pengikhtisaran
3.       Tahap Pelaporan
Tahap pelaporan adalah tahap penyusunan laporan keuangan. Pelaporan keuangan yang lengkap meliputi laba-rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan neraca, dan laporan arus kas. Tetap selanjutnya mengakhiri siklus dengan menyusun jurnal penutup ( untuk menutup akun-akun nominal ), menutup buku besar, menyusun neraca saldo setelah penutupan, dan membuat jurnal pembalik. Setelah siklus berakhir pada suatu periode, maka siklus periode berikutnya dimulai lagi dari analisis bukti transaksi keuangan dan seterusnya. laporan laba-rugi berisi pendapatan dan beban, laporan perubahan ekuitas berisi modal, dan laba bersih, laporan neraca berisi aktiva, dan pasiva, laporan arus kas berisi kas masuk dan kas keluar menurut kategorinya ( kegiatan operasi, investasi, dan pendanaan ).

c. Jurnal Penutup
Jurnal penutup adalah jurnal yang di susun pada setiap akhir periode akuntansi, untuk menutup atau menihilkan akun-akun nominal. Pada prinsipnya jurnal penutup disusun untuk menihilkan nilai akun nominal pada setiap awal periode akuntansi. Jurnal penutup memasukkan akun nominal ke sisi debet-kredit yang berlawanan dengan saldo normal mereka.

1. Kelompok yang perlu dibuatkan jurnal penutup
a. Pendapatan
b. Beban
c. Ikhtisar laba rugi
d. Prive

2. Langkah-langkah menyusun jurnal penutup
a. Memindahkan saldo akun pendapatan ke akun ikhtisar laba rugi dengan mendebet akun pendapatan sebesar saldonya dan mengkredit akun ikhtisar laba rugi.
b. Memindahkan saldo akun beban kea kun ikhtisar laba rugi dengan mengkredit akun beban sebesar saldonya dan mendebet akun ikhtisar laba rugi.
c. Memindahkan akun prive kea kun ekuitas, dengan mengkredit akun prive dan mendebet akun ekuitas.
d. Menutup Buku Besar
Tahap selanjutnya setelah membuat jurnal penutup adalah menutup buku besar. Menutup buku besar dilakukan dengan memindahkan saldo akun nominal kea kun ekuitas, sehingga akun nominal bersaldo nol.
e. Neraca Saldo Setelah Penutupan
Setelah akun-akun nominal ditutup maka hanya perkiraan riil yang masih memiliki nilai. Perkiraan riil tersebut ditampilkan kembali format neraca saldo setelah penutupan. Atau dapat pula perkiraan riil dan jumlahnya diambil dari neraca lajur yang telah disusun, kecuali prive yang ditiadakan dan jumlah modal yang diganti dengan modal akhir pada neraca.
f. Jurnal Pembalik
Jurnal pembalik adalah jurnal yang dilakuakn pada awal priode akuntasi. Jurnal pembalik agar tidak terjadi pengakuan pendapatan dan beban berganda dalam suatu priode akuntasi akibat adanya jumlah penyesuaian tertentu pada tahap pengikhtisaran. Jadi,ketika sampai pada tahapan menyusun jurnal pembalik perhatian kita kembali pada jurnal penyesuaian yang telah dibuat sebelumnya.
ayat jurnal penyesuaian yang memerlukan jurnal pembalik adalah sebagai berikut.
1. Pendapatan yang masih harus diterima
2. Beban yang masih harus dibayar
3. Pendapatan diterima dimuka
4. Beban dibayar dimuka
Jurnal pembalik ditampilkan dalam bentuk jurnal umum pada awal periode berikutnya.